Rencana hari ini sebenarnya pengen ke World Book Day Indonesia di Museum Bank Mandiri - Jakarta Kota. Udah nyiapin buku Edensor, Sang Pemimpi, dan Laskar Pelangi, yah siapa tahu dapat kesempatan buat ditandatangani Andrea “Ikal” Hirata.
Apalagi menurut jadwal Andy F. Noya juga bakal hadir tanggal 26 April ini, niat makin kuat mau datang ke sana. Apa daya badan ambruk, kena flu agak berat nih, ketularan Ichad my ‘lil prince. Padahal sudah jaga badan dengan extra ester C, dan Calcium-nya Sandoz. Kecapean juga sih, pulang malem terus dr kantor.
So ngisi waktu dengan iseng-iseng ikutan bisnis e-booknya Haryo ; dan masih punya waktu nulis peer. Iya, peer yang sudah lama terlantar, a request from my classmate belajar lika-liku investasi paper asset, Mas Aji Monoarfa: Laporan dari gathering BEI Investor tanggal 15 Maret 2008 lalu. Hi..hi.. nggak enak juga, sementara dia sudah nulis laporan yang bulan April di blog
Ok, bro here please find the recap, enjoy it
Market update & Investment Strategy 2008
MAKRO EKONOMI INDONESIA 2008
Yang pertama harus kita pelajari adalah Makro ekonomi Indonesia 2008, selain makro ekonomi regional dan global yang mungkin berkontribusi ke market Indonesia. Kondisi makro bisa diibaratkan payung, seolah-olah kita melihat situasi ekonomi dari sisi atas, bagaimana inflasinya, mata uangnya, dll (kalau mikro lebih ke regulasi per sektor real)
Kalau misalnya kondisi makro ekonomi Indonesia terlihat positif, baru kita tinjau apakah regional juga positif, dan baru kita lihat lagi apakah ekonomi global juga positif.
Dalam makro , ada 4 pilar-pilar perekonomian :
1. Inflasi
2. SBI rate
3. Mata uang/currency
4. GDP
1. Mulai dengan pembahasan pilar no satu, yaitu Inflasi.
Inflasi Indo th. 2006 : 6.60%, th. 2007 = 6,58%, 2008 ytd as of 29 Feb 08 sudah mencapai 2,44%. Sudah terlihat tinggi, padahal masing banyak event tahunan yang dipastikan akan mengangkat inflasi seperti event tahun ajaran baru sekolah setiap bulan July, event hari Raya Lebaran, hari Raya Natal dan tahun baru. Sudah terlihat bahwa inflasi cenderung > 6,5 dan mengarah ke 7. Atau core inflation >10%. Core inflation adalah inflasi dasar diluar makanan, dll.
2. SBI rate
Pada pertengahan Maret, ketika Lilis bicara di gathering, Suku bunga BI =8%, dan diperkirakan akan berada di kisaran 8-8,5% untuk menekan inflasi. (Mungkin akan ditahan di angka 8 sampai bulan Mei, sehubungan dengan adanya pemilihan gubernur BI).
Mari kita pelajari korelasi suku bunga BI dengan PU/Pasar Uang (deposito dan obligasi ang jatuh temponya,1 thaun), serta suku bunga BI dengan PO/Pasar Obligasi (SUN dan obligasi yang jatuh tempo>1 th).
PU bergerak mengikuti suku bunga, sementara PO bergerak melawan suku bunga. Jika suku bunga turun, harga obligasi akan naik.
(Contoh, pada masa keemasan obligasi di Indonesia th 2006, ketika suku bunga Bank turun dari 12% menjadi 9%, harga obligasi saat itu naik sampai dengan 26%).
Untuk tahun 2008, forecast PU cenderung flat. Tetapi perlu dicatat, ada fungsi PU yang tidak bisa digantikan oleh obligasi, yaitu likuiditasnya. Sehingga PU unggul untuk penyimpanan short term (istilah Lilis :uang parkir).
Sedangkan kelebihan dari PO adalah memiliki sifat Inflation Hedging. Return dari PO menyamai inflasi, atau 1-2% diatas inflasi. Cocok untuk penyimpanan kebutuhan medium term.
Sifat inflation hedging ini berlaku pada kondisi normal, dimana pergerakan inflasi di kisaran 1 s.d 2% saja.
*Jika suku bunga turun, maka harga obligasi naik, sementara Yield obligasi turun, inilah waktu yang tepat bagi investor untuk menjual obligasi ke 2nd market. (Yield = harga obligasi+coupon).
*Jika suku bunga naik, maka harga obligasi turun, sementara Yield-nya naik, maka investor disarankan untuk memegang obligasi tsb sampai jatuh tempo. Jangan sampai jual rugi.
* Jika suku bunga stabil, harga obligasi stabil juga, investor hanya berharap keuntungan dari coupon, karena tidak bisa mengambil profit dari kenaikan harga obligasi.
Lilis sangat menekankan kepada investor untuk benar-benar mengenali, jenis investasi yang dibuthkan sesuai karakter masing-masing. Jangan asal main hajar, invest di high risk (baca saham). Jadi perlu mengenali juga kebutuhan jenis investasi di PU, PO, maupun di RDPT. Karena meskipun berada di negara dengan fundamental ekonomi yang sama, profil tiap investor adalah unik.
Single vs Married
Married vs Divorced
Healty vs Ill
Employed vs Unemployed
Hired vs Retired
With children vs Childless
Male vs Female
Seasoned vs Noviced
Bahkan kebutuhan jenis investasi berubah-ubah seiring perubahan kondisi seseorang, jadi potfolio investasi juga perlu dirubah supaya sesuai dengan kebutuhan, dan terlebih supaya investor tidak terjangkit Insomnia effect. Jangan sampai nggak bisa tidur gara-gara mikirin bursa turun/naik. Kenali risk tolerance masing-masing, meskipun kita masih mudah dan sehat.
3. Currency
Kisaran rupiah 2008 ada di 9000-an.
Kisaran lebar : 8,5 -9,5
Kisaran sempit: 8,9 - 9,3
Target stabilitas perekonomian Indonesia sendiri adalah IDR 9040.
Mata uang ini harus dijaga supaya jangan terlalu lemah dan juga jangan terlalu kuat. Kalau jangan terlalu lemah, sudah jelas alasannya karena akan memukul Industri; Industri yang high cost -> harga-harga mahal _> Inflasi naik tinggi.
Sedangkan mata uang dijaga jangan terlalu kuat supaya jangan sampai barang import membanjir masuk, dan juga untuk mencegah arus inflow fund besar-besaran dari luar.
4. GDP
GDP Indonesia 2008 , diperkirakan di angka 6,0 s.d 6,3%
Seharusnya relatif stabil di 2008.
Dari ke empat pilar makro diatas, secara fundamental makro Indonesia seharusnya masih Ok. emang return investasi di IHSG sudah tidak bullish lagi, tetapi juga belum bearish.
Catatan: asumsi Bull return > 30-40%, asumsi Bear return <30-40%
FAKTOR REGIONAL & GLOBAL
Sebenarnya imbas kondisi perekonomian USA lebih berpengaruh langsung ke market Taiwan, dibanding ke market Indonesia.
Tetapi beberapa tahun ini dana asing masuk besar-besaran ke masrket saham Asia, termasuk Indonesia. Jadi ketika terjadi krisis karena subrime motrgage di USA, hedge fund asing yang merugi karena subprime membutuhkan likuiditas dan menarik dana mereka dari market Asia, sehingga market saham Asia drop besar. Koreksi di IHSG sendiri (yg diakibatkan oleh krisis subprime mortgage itu) angkanya masih lebih kecil dibanding koreksi yang terjadi di bursa Malaysia, India, dan Pakistan.
Masih banyak yang dijelaskan Lilis setiadi mengenai detail kasus subrime mortgage di USA, efek subprime tsb ke Europe market (tepatnya ke rich Europe countries bukan ke emerging Europe), Ke Asia ex Japan, dan juga mengenai Stagfation serta Decoupling Asia, dan apa saja fear factor yang harus diperhatikan para investor baik yang terjadi di domestik maupun regional/global.
Lilis juga membahas mengenai Index dan faktor pembentuknya (Fundamental +TA). Tapi udah malem nih, Ji..udahan dulu ah laporannya.
Yang jelas saya ingat adalah hari itu para peserta gathering sangat puas dengan materi dan cara Lilis Setiadi menyamapaikan materi. Saya juga suka dengan potongan rambut Lilis yang asimetris, so pretty mbak Lilis, dan kecerdasan berorasi. Yang juga jempol adalah kesediaan Lilis Setiadi ditahan para peserta yang tidak ada puasnya bertanya, sampai gathering waktunya molor dan Lilis ‘diamankan’ oleh Alex.
Saya sendiri sempat menyampaikan kesan saya “Mbak Lilis, nggak nyangka ternyata anda lebih memukau dari Pak Michael”.
Padahal Pak Michael sendiri sudah sangat menarik dibanding pembicara lain yang pernah diundang di gathering BEI investor club (kasus yang sama: ditahan oleh peserta, hampir nggak bisa pulang meladeni pertanyaan peserta, he..he..).
Dua jempol untuk para pentolan SIMI!
Jadi nggak sabar untuk mmenantikan Lilis Setiadi bicara di gathering WATR, tanggal 10 Mei nanti. Nah, giliran Aji yang bikin laporan nanti.