Tadi pagi ke Ps. Puri, ke Bank Niaga setor Niaga Mapan bulan ini dan nyari cemilan Jepang untuk si kecil di rumah.  Saya memilih cemilan Jepang ini karena jenis cemilan buat anak dibuat less sweetener, less salt, dan less MSG. Di Ps. Puri harganya lebih murah dibanding di R*nch M*rk*t.  Sebenarnya Ichad lebih suka jajan susu (terutama Cimory – saingan sama emaknya ) yakult, dan donat. Tapi kasihan juga kalau sedang main sama anak tetangga, Ichad hanya bisa ngeliatin mereka ngemil aneka jajanan renyah full MSG dan tinggi garam nan kriukk..kriukk…, sementara anakku itu paling banter megang agar-agar cups, Poki atau bisuit hasil seleksi ibunya. Kejam banget rasanya….he..he..he..

So, krispy snack Jepang jadi andalan (cemilan pertamanya waktu umur 1 tahun adalah wafer Morinaga) , meskipun akhir-akhir ini bude Pung sering mengirimi Ichad aneka jajanan diluar ‘daftar cemilan sehat’ yang saya buat. Kalau papinya sih, memang lumayan ketat ngasih pilihan jajan, tawarannya  ”Ichad mau susu atau Yakult?” atau “Ichad mau donat atau es krim?”, kayaknya lebih kreatif saya deh kalau ngasih pilihan jajanan mana yang boleh dipilih Ichad. Sementara anakku itu paling bahagia kalau dikirimi budenya momogi, cheetos, kacang mayashi, dan keripik pisang :P

Kembali ke Pasar Puri, abis beli cemilan mampir ke Jesslyn,  mau cari celana jeans. Walah, pagi-pagi udah berjubel para Ibu berebut blouse batik yang lagi trend sekarang ini. Boro-boro bisa milih denim, toko kecil itu penuh pembeli. Naksir satu blus batik keren buat dipake ngantor, tapi mau nge-pas, antrian kamar pas mengular. Wah, males deh.. bisa nyampe kantor lewat pkl. 09 dong. Akhirnya mundur dari kompetisi rebutan blus batik cantik.

Mami Susan juga lagi heboh berbatik ria. Minggu lalu beli scarf di Bin house, hari ini pulang dr kantor langsung ke butik mahal dekat RM, mau cari baju batik colr. Purple katanya.

Bangga lho melihat batik populer lagi , jadi inget sama Anisa Pohan dan Dian Sastro yang rajin banget mempopulerkan batik sebagai pakaian perempuan muda nan dinamis. Tapiiiii tadi di Jesslyn saya bingung , kok banyak blus batik berlabel negara Asia non Indonesia? pantesan modelnya up to date, he..he..he..

Awal bulan s.d tangal 8 April kan ada pameran hasil kerajinan khas Yogjakarta di ITC permata hijau. Saya bersuka cita mendapatkan selipan/ganjal pintu  berbentuk kura-kura dari jati asli, dan tempat surat meja yang festive banget. Sempat muterin yang jual batik halus, tapi sepi banget nggak ada yang beli. Lebih rame di tempat pengrajin lampu hias dan mebel.

Kok bisa kontras banget dengan popularitas batik yang sedang naik daun saat ini? Jawabannya ada di cuting dan design-nya. Apa yang diperbutkan di Jesslyn memang bikin saya kepengen beli karena designnya manis, cutingnya modern, embellishment detailsnya up to date, dan jelas bisa dipakai ke acara non formal, bahkan untuk jalan di mal. Sementara yang dipajang di pameran modelnya nggak jauh dari tunik, kemeja formal, blus panjang simple, dan kain/selendang.

Salah satu customer kantor saya adalah G* Ltd di UK. Diluar sportswear order, G* Ltd tiap tahun nggak pernah absen menagih design batik terbaru untuk kami propose ke sana. Mulai dari seleksi raw design diatas kertas, lanjut ke development contoh design di atas kain, salesman sample, sampai produksi untuk celana pantai mereka.  Supplier kita di Solo adalah designer yang sudah faham kebutuhan customer kami ini, jadi mudah untuk kami continue order.

Semoga perajin batik bisa mendapatkan keuntungan dengan populernya batik di kalangan perempuan muda, dengan lekas memenuhi kebutuhan design yang Ok.