Let others lead small lives, but not you. Let others argue over small things,but not you.

Let others cry over small hurts, but not you.

Let others leavetheir future in someone else’s hands, but not you.”
Jim Rohn

***

Saat ini kita tidak tahu akan jadi apa anak kita kelak. Kemarin Kum-kum memforward tawaran untuk mengikuti fingerprints test untuk mengetahui bakat dan karakter anak dari suatu lembaga fingerprints test fm Singapore , untuk sesi pertengahan bulan Mei ini, yang kalau jadi akan di laksanakan di sebuah cafe di Permata Hijau. Tertarik sih karena dulu saya pernah baca sebuah artikel tentang hasil riset kepolisian USA bahwa tinggi/rendahnya kecenderungan kriminalitas seseorang ternyata ada korelasinya dengan pola fingerprints seseorang.

Tapi harga fingerprints test ini mahal untuk ukuran saya; IDR 1,5 juta atau bisa turun jadi  IDR 1,2 juta kalau peserta yang ikut ada 10 orang. Selama ini Papi-nya Ichad sih rajin mencermati si kecil untuk mengetahui kecenderungan anaknya, apakah dominan di Visual, Auditori, atau Kinestetik. Kalau saya sih lebih memilih menerapkan semua cara, dengan terutama menjaga supaya selalu ada kontak fisik dan kontak mata (sesuai gaya belajar Ibu-anak batita ala Bapak Glenn Doman). Biarlah Ichad menemukan sendiri gaya belajarnya, saya akan kenalkan semua metode yang mampu saya provide untuknya, karena di usianya sekarang saya tidak ingin terjebak menjadi ortu yang menuntut kualitas si kecil. He deserves for a playful world, more kisses, and more hugs dalam keterbatasan waktu saya sebagai working mom.

Kalau saya sampai membaca 7 metode cara mengajari anak math, dan bela-belain membeli buku Mathmagic, bukan karena saya mau menjejali Ichad Math saat ini. Semua yg saya sempatkan baca itu hanya untuk membuka wawasan saya, yang hanya sempat mengenal 3 dari 7 metode itu di masa sekolah dulu. Jangan sampai kalau Ichad sudah bersekolah nanti, saya tidak bisa membantunya belajar atau berdiskusi, cuma karena Ibunya tidak mengerti perkembangan cara belajar yang baru. Saat ini saya sudah cukup bahagia dengan kecepatan Ichad mengenali dan menyebutkan berapa jumlah tentakel si Tickling Octopus di salah satu seri buku anak bergambar terbitan Erlangga Kid. 

Ngomong-ngomong soal seri buku E.K ini, saya pertama mengenal melalui 1 paket flap book dari mbak Anna Julia – leader team waktu di company lama, waktu itu Ichad baru lahir and mbak Anna rajn nengokin sambil bawa hadiah (God bless you,mbak). Saya langsung jatuh cinta dengan buku seri Erlangga Kid dan saat Ichad hampir 3 tahun sekarang ini, seri E.K selalu jadi the must read books. Oh ya, entah kenapa si kecilku itu dari sekian banyak buku, favoritnya adalah seri bilingual The Munching Crunching Caterpillar. Saya udah bosen deh bacain itu buku , termasuk bacain dengan belasan versi saya supaya nggak mati gaya. Baru-baru ini tuh anak mengigau jadi si caterpillar ” Ichad mau wings,bumbeh…! Ichad baterplaaai”, barangkali dia mimpi ketemu si bumblebee – salah satu karakter di buku itu yang memberi tahu si caterpillar bahwa lebah bisa terbang karena punya sayap, sementara si ulat gendut hanya punya kaki.

Sementara favorit saya  dari seri bilingual E.K ini adalah yang berjudul One Magical Day, tapi Ichad cuma mau sibuk kiss-kiss para brood dan mother duck di halaman bergambar bebek kalau saya bacakan buku itu, atau senyum-senyum melihat gambar anak kucing bergulung-gulung tidur bersama induknya. Gambar-gambar di One Magical Day di mata saya sangat indah dan kalimat English-nya punya rima yang enak dibaca. Mambuat saya sangat menikmati acara membacakan buku untuk si kecil. Ini acara favorit Ichad meskipun dia sudah bisa baca juga sedikit-sedikit, kelihatan anakku ini menikmati sesi memilih buku sendiri dan bergelung di pelukan saya seperti bayi, diam tenang menikmati baris demi baris kalimat yang saya bacakan.

Sebentar lagi Ichad akan menikmati dunia sekolah, akan mulai kompetisi mulai dari kompetisi sosial dan penilaian dalam skala kecil.  Tentu sebagaimana orang tua pada umumnya, saya berharap si kecil mampu mandiri dan menghadapi apa pun tantangan dalam hidupnya.

Saya tidak ingin dia jadi Quitter (anak yg gampang menyerah) dan Camper (anak yang mudah puas); saya berharap dia terbentuk menjadi seorang Climber, yang mampu menaklukan any challange di hadapannya . Climber sejati yang tangguh meskipun harus bolak-balik menghadapi tantangan. Apa pun bidang yang kelak dia pilih untuk ditekuni, semoga saya bisa membekalinya kemampuan untuk menjadi seorang Climber .