“A bank is a place where they lend you an umbrella in fair weather and ask for it back when it begins to rain” (Robert Frost)

 

Sabtu, 12 Juli lalu, materi kupas emiten di WATR sesuai jadwal yang ditentukan pak Al adalah BMRI. Peserta yang hadir hanya 36 orang. Teman-temanku banyak yg tidak datang, tapi mas Pudjo datang, jadi kita duduk sebelahan sambil diskusi tentang BUMI yang menukik ke 6700-an dan prx target masing-masing.

 

Pendahuluan dari Al sekali lagi menekankan tentang pentingnya memahami suatu

emiten yang yang kita pilih untuk berinvestasi. Pak Al mengingatkan bahwa bullish period seperti yang terjadi di IDX kurun thn 2003-2007 -dan disebut sebagai The super boom bull cycle, mungkin tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Menurut histori bursa dunia, bull seperti itu hanya terjadi satu kali dalam periode 15-20 tahun. Tentu saja semua yg berinvestasi dalam periode bull bisa untung (dan semua analis bisa mengaku jadi dewa bursa) karena indeks market naik terus. Kenyataan bahwa market sesungguhnya jauh lebih banyak dalam kondisi sideways dibanding bullish, membuat  kemampuan stock pick menjadi penting untuk dimiliki.

 

Seorang member di milis BEI pernah menulis “Dalam kondisi pasang naik, semua kapal akan terangkat, baik kapal kecil maupun kapal besar, kecuali kapal yang bocor”

Nah, kalau dalam bull period saja ada saham yang tidak layak pilih, apalagi dalam sideways dan bear period.

 

Sesuai tujuan Al sharing dalam kupas emiten “Bagaimana memahami suatu emiten dan bagaimana cara trading emiten tersebut”, seperti biasa kita melakukan pendekatan valuasi dari data reliable yang dapat diperoleh investor retail yaitu dari Laporan Keuangan emiten yang ada di website resmi BEI.

 

Ada kejutan dari Al hari itu. Al menantang member WATR yang hadir (36 orang) untuk mengerjakan valuasi BMRI sebagai peer, dikumpulkan melalui email. Dan bagi yang mengerjakan peer, Al menyediakan reward berupa uang tunai sebesar Rp.3,600.000 (dasar hitungan seratus ribu rupiah dikali 36 member yg hadir) untuk dibagi kepada yang mampu mengerjakan dan menyerahkan peer ini. Alasan Al, supaya kita para muridnya benar-benar mau membaca dan mempelajari valuasi emiten. Memang pada kelas valuasi ASII yang lalu, Pak Al sepenuhnya menyiapkan materinya. Jadi, kali ini Al merasa harus menantang kami untuk ngubek data sendiri.

 

Wajah-wajah jiper bin cemas segera memenuhi ruangan, semula Al cuek dan meneruskan materi pembuka dalam bentuk diskusi, yaitu mengenali bisnis model BMRI. Setelah hampir setengah jam diskusi mengenai layanan bank dan profit/fee serta resiko dari setiap jenis layanan, mungkin Pak Al nggak tega melihat wajah-wajah masih tertekan karena beban peer, akhirnya Pak Al mencabut peer yang diberikan. Rona lega dan senyum bertebaran lagi di wajah para member. He..he..he…pemalas semua!

 

So, ini yg sempat saya catat.

 

Rekap diskusi model bisnis BMRI:

-         menyimpan uang (tabungan, giro , deposito)- ada profit

-         memberi pinjaman (KPR; kredit konsumsi – mobil, multiguna, credit card; kredit korporasi; kredit UMKM) – ada income dr profit, ada resiko macet/gagal bayar

-         outlet mata uang asing – ada resiko kurs

-         outlet reksadana (produk rd milik Mandiri investment management sendiri, milik MI lain, maupun rd off shore/asing) – ada income dari fee

-         safe deposit box – ada income

-         jasa remittance (pengiriman uang rupiah dan mata uang asing)- ada resiko selisih kurs dr mata uang asing

-         guarantee note (L/C mata uang rupiah dan mata uang asing)

-         outlet pembayaran billing (utility-telpon,listrik; pajak; leasing) – ada income

-         atm (nasabah sendiri, kartu atm bank lain) – ada fee dari pengguna bank lain/atm bersama

Sebenarnya ada satu jasa lagi yang muncul dalam diskusi, yaitu jasa ‘wealth management’, tetapi digugurkan dengan asumsi bentuk jasa tersebut di bank mandiri masih mendompleng reksadana, dan menurut Al tidak sesuai kualifikasi wealth management sebenarnya seperti yang dilaksanakan oleh institusi semacan J.P Morgan, dsj.

 

Dari sini mulai masuk ke pembahasan mengenai laporan keuangan.

Laporan keuangan ada yang LK tahunan, dan ada LK yang per quarter. Laporan keuangan tahunan ada yang statusnya sudah diaudit dan ada yang belum diaudit. Laporan keuangan per quarter, misalnya sbb:

 

-LK Jan s.d Maret 2008, disebut 1Q08

Balance tahun 2008 dimulai dengan 0 (nol), saldo akhir adalah ending balance th 2007. Didalam 1Q08, ada ending balance 2007, ditambah mutasi-mutasi yang terjadi selama Jan-Mar 2008.

 

    -LK April s.d Juni 2008, disebut 2Q08

Di dalam 2Q08, ada ending balance 1Q08, ditambah mutasi-mutasi selama April-Jun 08.

 

  -LK Juli s.d Sept 2008, disebut 3Q08

Didalam 3Q08, ada ending balance 2Q08, ditambah mutasi-mutasi yang terjadi selama Juli-Sept 08.

                                                                                                                

 -Sedangkan, LK Okt s.d Dec 2008, disebut Annual Report 08.

 

Menurut Al, laporan keuangan Bank Mandiri 1Q08 memang relevansinya kurang untuk dianalisa di bulan Juli ini, namun karena 2Q08 belum keluar, 1Q08 tetap dipakai karena merupakan sumber analisa fundamental yang reliable (reliable dalam arti merupakan laporan keuangan yang resmi).

 

Dimulai dari daftar isi yg berisi Neraca konsolidasian, Laporan rugi laba konsolidasian, Laporan arus kas konsolidasian, dll. Pak Al menyarankan untuk selalu memulai analisa dari ‘Catatan-catatan’.

 

Mengetahui laporan keuangan ini terdiri dari lebih seratus empat  puluh halaman, seorang peserta mulai mengeluh. “Kalau tidak mau mempelajari laporan keuangan, jangan jadi investor” kata Al tegas.

 

Maka, dengan segala ketabahan para peserta mengikuti kupasan Al, yg meskipun sudah memilih halaman-halaman terpenting saja tetap saja bikin mata pegal. Pada bagian tertentu, Al menjelaskan pengertian dari kalimat yang tersurat di situ, atau menekankan mana poin yang harus dicermati dan mana yang boleh diabaikan. Sampai halaman 95, kami sudah mulai keteteran. Untung segera dibreak Al dgn lunch dan sesi kedua sudah lebih membahas rasio-rasio.

 

Pada intinya, gaya valuasi Al terhadap lap keu BMRI berbeda dengan gaya valuasi terhadap lapkeu ASII. Jika pada ASII, Al memakai Enterprising Value dengan mengupas ASII sbg suatu holding company dimana sales, growth, EV, prospek , serta asumsi penurunan profit dari setiap  anak perusahaan ASII menjadi bahasan utama, pada pendekatan BMRI Pak Al menekankan kami untuk mengerti mengenai surat-surat berharga yang menjadi asset BMRI serta bagaimana surat-surat berharga tersebut ditransaksikan, dan yang terpenting apa pengaruh transaksi surat berharga tadi terhadap pergerakan harga BMRI. Misalnya pengaruh penerbitan SUN dan Surat Obligasi oleh pemerintah, penurunan harga SUN di market sekunder, maupun transaksi REPO di antara lembaga keuangan.

 

Selain surat berharga, pihak mana yang menjadi penerima kredit BMRI juga dikupas.  Jika Bank Niaga , porsi kredit terbesarnya adalah KPR, maka Bank Mandiri porsi kredit terbesarnya adalah kredit korporasi yang mencapai 47% dari total kredit. Artinya, jika terjadi penurunan disektor industri, maka pengembalian pinjaman kalangan industri terhadap Bank Mandiri ini akan terganggu, dan tentu berpengaruh thp kinerja BMRI. Selain kredit korporasi, juga ada kredit yang diberikan kepada pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan BMRI, dalam hal ini adalah MenKeu (BMRI tidak berada di bawah BUMN, tetapi dibawah Menkeu).

 

Kemudian diringgung juga mengenai MSOP (saham yg diberikan kepada karyawan), dan hutang-piutang, dan sumber pinjaman yang diterima.

Pemberian MSOP akan memperbanyak jumlah lembar saham yg beredar – berpengaruh thp semakin besarnya nilai pembagi dalam menghitung EPS. Kalau hutang dasar analisanya adalah hutang jangka panjang akan selalu memberikan beban bunga yang lebih besar daripada hutang-hutang jangka pendek (ingat, pada hutang jangka panjang, ada resiko yg harus dikompensasi).

 

Menurut Pak Al, mencari fair value emiten bank lebih sulit dibanding emiten lain karena kompleksnya asset (semisal agunan) yang harus dideterminasi. Kalau pada valuasi ASII tanggal 14 Juni lalu, Al menggunakan rasio EV/EBITDA, kali ini kami hanya diajak membandingkan BV(book value) dan P/BV (price per book value). Kata Al, kurang pas memakai EV/EBITDA karena cashflow bank adalah cashflow pihak lain.

 

Untuk membandingkan BMRI dengan emiten yang setara, dilihat  P/BV dari BMRI, BBCA, dan BBRI (dimana saat ini market cap BMRI = 58, BBCA= 68, dan BBRI=67)

Berdasarkan closing prx terakhir, penutupan market per hari Jumat -11 Juli 08, diperoleh P/BV BMRI = 1,95X ; P/BV BBCA=3,24X, dan P/BV BBRI = 3,27X. Terlihat P/BV BMRI paling kecil diantara ketiganya.

 

Al juga mengajak kami membandingkan P/BV dari BMRI tahun 2007 dan tahun berjalan 2008, dan membuka chart BMRI.

 

Dari annual Oct-Dec ’07, diketahui BV BMRI = 1409,37

Harga closing tertinggi di periode Jan-Dec 07 , ada di 5 Feb 07 = 3450 , P/BVnya = 2,44X

Harga closing terendah di periode Jan-Dec 07, ada di 22 Jan 07 =2625, P/BVnya 1,86X

 

Sedangkan dari tahun berjalan 2008, data BV  terakhir diambil dari 1Q08, yaitu 1462 (angka BV ini diperoleh dari jumlah equity  per March 08 dibagi jumlah saham yang beredar per march 08).

Harga closing tertinggi di periode Jan- 11 July 08 , ada di 2 April 08 = 1150 , P/BVnya = 2,15X

Harga closing terendah di periode Jan-11 July 08, ada di 30 Jun 08 =2600, P/BVnya 1,8X

 

Dari sini Al menyarankan cara trading untuk BMRI, buy jika P/BV BMRI ada di angka 1,8X s.d 1,86X, dan sell kalau angka P/BV BMRI sudah mendekati P/BV 2,15X.

 

—000—

 

Duh, nggak janji deh kalau benar-benar mesti dikerjakan sbg peer. Jangankan saya yang buta ilmu ekonomi dan akuntansi, beberapa rekan yang kuliahnya ekonomi aja jiper ditantangin peer sama Al.

 

Tanggal 2 Aug nanti rencananya Al mau ajarin pendekatan saham Jasamarga-secara FA tentunya. Hmm, sayang saya bakal nggak bisa ikutan.

 

Untuk lewat tanggal 2 Aug, kami beramai-ramai usul nama emiten untuk dibahas. Woo, langsung deh pada keluar maruknya, ngasih daftar sebanyak mungkin untuk disusun pak Al.