An education isn’t how much you have committed to memory, or even how much you know. It’s being able to differentiate between what you do know and what you don’t. Anatole France (1844-1924)
***
Materi dari WATR tanggal 09 Agustus 2008 ini, saya tulis terutama untuk teman-teman di grup belajar yang belum mendapat kesempatan untuk hadir pada sesi WATR lalu, terutama Lim Hoat (yang sudah ngedumel sepenuh hati karena merasa dianaktirikan di jadwal WATR), dan Cella yang mulai nagih. Sorry ya, telat nulisnya.
Kali ini Al membuka kelas dengan memberikan panduan mengenai cara mendownload data dari situs bapepam dan mengubahnya menjadi txt file untuk data feed metastock. Baru masuk ke topic bahasan Market Info, Transaksi Repo, Transaksi Margin dan Transaksi Short Selling.
1. MARKET INFO
Market info terminal adalah sejenis window software dimana kita bisa melihat bid/offer secara streaming/realtime, baik dari pasar modal maupun komoditi. Semua pihak memiliki akses yang sama terhadap data yang tersaji, perbedaan jeda waktu hanya tergantung dari kecepatan koneksi internet dari masing-masing pihak yang memantau.
Di Indonesia, market info disediakan oleh broker dan oleh beberapa provider independen.
Contoh broker yang menyediakan layanan market info diantaranya SP (Sarijaya gitu loh), HOTS, Samuel dan Phillips online. Contoh perusahaan independen: RTI, Stockwatch, IMQ.
Market information data feed:
|
BEI data feed server |
|
Broker |
|
Provider |
Muncul pertanyaan mengapa provider bisa hidup, sementara akses ke data BEI terbuka. Jawabannya adalah karena pihak provider mampu menyajikan data yang diolah secara sophisticated, bahkan para broker pun memerlukan data yang disajikan dengan sophisticated ini.
Tujuan dasar disediakannya Market Info adalah untuk memantau proses-proses berikut:
- Order entry (atau order list)
- Bid & Offer
- Order match (order done)
Yang juga bisa ditampilkan di market info: total index, value, volume, detail board & market type. Setiap market info dapat menyajikan variety dari sudut pandang yang berbeda.
Menengok ke belakang, sebelum diaplikasikan JATS (Jakarta Auto Trading System) di bursa efek , jalur suatu transaksi perdagangan lumayan panjang dan membuka peluang terjadinya kecurangan oleh pelaku pasar.
Jalur lama sebelum memakai JATS :
Investor → sales →dealer→floor trader→stock market system→floor trader→dealer→sales→baru balik lagi ke investor.
Peran dealer di jalur lama ini untuk memeriksa data sebelum menyampaikan order ke floor trader, termasuk data kecukupan dana di akun investor.
Jalur setelah diterapkannya JATS di bursa efek:
Investor → sales →dealer→sales→dealer→JATS→balik ke investor untuk order yang done
Pertanyaannya mengapa saat ini masih terlihat floor trader di bursa, jika perannya sudah tak ada. Menurut Al, karena banyak pengunjung (publik) yang tidak percaya bahwa bursa itu market beneran kalau tidak dipenuhi floor trader yang bersibuk ria di lantai bursa. Aneh tapi nyata, tapi katanya karena itulah mereka dipertahankan; untuk meramaikan fisik bursa.
Dalam On Line Trading (OLT) system, ada dua cara yang saat ini dipakai:
- OLT by user
Jalurnya: Investor →investor database→JATS→investor database→ balik ke investor
- OLT by dealer
Jalurnya: Investor →dealer→investor database→JATS→investor database →dealer→balik ke investor
Peran dealer pada jalur OLT ini hanya membantu dalam menginput order saja.
Menurut Al, pelopor OLT di bursa kita adalah e-samuel, diikuti oleh Sarijaya dengan SPonline-nya, kemudian di posisi ketiga adalah e-trading dengan HOTS-nya.
Sebelum ada JATS, beberapa hal berikut bisa terjadi:
- Dealer dan sales bisa memainkan sekian poin harga bid/offer untuk keuntungan sendiri (dikorupsi) dari hak investor.
- Terjadi kesalahan dalam menginput instruksi transaksi (pure human error-bukan disengaja untuk merugikan investor). Misal,investor memberi instruksi buy tetapi yang , tapi terinput sell. Sekarang ini pada system OLT by user, maka resiko kesalahan input ini beralih pada pihak investor sendiri.
Catatan:
Mengenai adanya broker yang mengumbar automatic stop-loss, Al mengingatkan bahwa di bursa luar negeri memang ada fasilitas ini, tetapi peraturan di Indonesia saat ini masih melarang ‘titipan order’. Bapepam mengharuskan semua transaksi langsung diteruskan ke bursa untuk dieksekusi; tidak boleh ditahan dulu oleh broker untuk menunggu sampai ke target harga bid/offer tertentu.
Kembali ke tujuan dasar disediakannya Market Info, untuk memantau proses-proses Order entry (atau order list),Bid & Offer dan Order match, berikut rinciannya.
Order entry
Berdasarkan UU, order entry disusun berdasarkan prioritas harga dan waktu.
Contoh sederhana instruksi buy yang akan disusun menjadi bid.
|
time |
instruction |
qtty (lot) |
Price (Rp) |
|
09.31.00 |
buy |
500 lot |
21,500 |
|
09.31.50 |
buy |
600 lot |
21,500 |
|
09.32.00 |
buy |
50 lot |
21,650 |
|
09.33.00 |
buy |
60 lot |
21,650 |
|
09.34.00 |
buy |
100 lot |
21,700 |
Order entry disusun dalam Bid/Offer sbb (contoh offer anggap saja datanya sudah jadi seperti ini):
|
BID |
Prioritas dari segi harga |
OFFER |
Prioritas dari segi harga |
|
100 |
21,700 |
21,750 |
100 |
|
110 |
21,650 |
21,800 |
500 |
|
1100 |
21,500 |
21,850 |
50 |
|
|
|
|
|
Perhatikan:
Untuk done order bid yang berjumlah 110 lot, yang akan tereksekusi lebih dahulu dari 110 lot ini adalah bid quantity 50 lot – berdasarkan prioritas waktu (antrian pkl 09.32.00), baru yang 60 lot (antrian pkl 09.33.00).
Yang harus diingat adalah, terlalu naif menganggap market info bisa digunakan untuk melihat arah pergerakan market, karena market maker (baca:bandar) memasang jebakan di sini. Investor harus dapat membaca apakah terjadi akumulasi atau distribusi oleh market maker, supaya tidak terjebak.
Accumulation & Distribution
*Pada tahap akumulasi, market maker akan tetap bertransaksi jual/beli, tetapi (dari total qtty) akan lebih banyak membeli dibanding menjual saham yang sama.
*Sebaliknya pada tahap distribusi, market maker akan menjual(total qtty) lebih banyak dibanding membeli saham yang sama.
Pada dua prosedur akumulasi dan distribusi itu, market maker akan selalu maintain proporsi antara cashflow (=cash reserve) dengan stock (=inventory).
Kepiawaian dalam menjaga proporsi cashflow dengan investory inilah yang membedakan mana market maker yang lebih pintar.
Bahkan market maker sekuritas A dapat menjatuhkan posisi market maker sekuritas B dengan memaksa sekuritas B melakukan cut loss atas saham tertentu, jika si sekuritas A ini mengetahui kelemahan posisi daripada MKBD sekuritas B.
MKBD merupakan kependekan dari Modal Kerja Bersih yang Disesuaikan, yaitu jaminan yang memastikan ketersediaan uang transaksi untuk transfer pada T+3, dimana seluruh transaksi buy dan sell dari sekuritas plus nasabahnya akan mengurangi ketersediaan angka MKBD tersebut.
Bagaimana cara mengetahui apakah market maker sebenarnya melakukan distribusi atau akumulasi? Salah satu cara paling simple adalah dengan menghitung dan membandingkan 5 top net seller dan 5 top net buyer dari saham tertentu pada setiap closing. Caranya, ambilah data 5 top buyer dan 5 top seller yang datanya diketahui segera setelah market ditutup pada hari bursa.
Kemudian analisa buy dan sell dari setiap nama yang berada di 5 besar tersebut. Jika misalnya market maker A berada di posisi satu dari 5 top buyer dengan membeli 5000 lot saham X, tetapi namanya juga muncul di posisi tiga dari 5 top seller hari itu dengan melakukan transaksi sell sebanyak 7500 lot saham X; artinya market maker A ini melakukan net selling sebanyak 2500 lot saham X.
Juga hati-hati karena market maker tentu akan memecah jumlah lot yang ditransaksikan untuk menyamarkan prosedur akumulasi maupun distribusi itu.
Lebih jauh lagi, market maker A juga sangat mungkin bekerjasama dengan market maker B, untuk menjebak investor retail. Market maker sekuritas A dapat dengan mudah memindahkan saham ke sekuitas C dalam waktu 2 jam saja melalui mekanisme legal tertentu. Jadi, pesan Al, jangan terjebak dengan nama sekuritas yang bertransaksi. Tetaplah lihat nett selling/buying untuk membaca distribusi dan akumulasi. Bahkan proses akumulasi dan distribusi ini tidak hanya terjadi dalam satu hari, butuh pemantauan selama beberapa hari.
Market maker dapat melakukan distribusi, sementara harga saham tetap atau naik. Perlu dicatat bahwa yang dilakukan market maker adalah mengambil harga rata-rata. Kalau investor dapat mencari momentum dimana harga saham tetap atau naik, tetapi jumlahnya berkurang , bisa diartikan investor tersebut menemukan market maker sedang melakukan distribusi.
II. REPO; REPURCHASE CONTRACT
Repo adalah suatu bentuk kontrak pinjaman jangka pendek untuk menambah kapital/modal atau untuk memenuhi kebutuhan likuiditas/pinjaman dengan janji untuk membeli kembali jaminannya/kolateralnya.
Ciri-ciri Repo: (tubi kontinu kalau udah sempat,hehe)