You may have tangible wealth untold :
Caskets of jewels and coffers of gold.
Richer than I, you can never be -
I had a mother who read to me.
[Strickland Gillilan]
Selama dua tahun, bait diatas senantiasa akrab saya dalam setiap komunikasi dengan para ibu dan beberapa ayah member BEX Club, tentunya juga para team Tira Optima di milis BEX.
19 November 2005, adalah moment pertama live saya dengan komunitas ibu-ibu yang mempraktekan GD method. Ketika itu saya memutuskan mengikuti seminar Pak Rizal di markas TOP (belakangan beliau sdh pindah ke Sampurna Foundation, tapi masih enjoy dengan GD katanya), setelah beberapa waktu secara pasif mengikuti milis BEX, sekaligus beli buku panduan yang ‘reading’. Langsung semangat begitu melihat rekaman video pertama Chloe Purnama, yang waktu itu masih ‘piyik’ dan mamanya yang bersemangat nge-flash kartu baca dgn heboh supaya Chloe tetap tertarik, thanks ya Chloe sudah menjadi inspirasi untuk saya.
Waktu itu Ichad masih belum genap 5 bulan, saya dibantu sus Bertha membuat flash card generasi pertama buat Ichad. Kata tunggal, spidol besar merah, dan berkarung-karung semangat.
Umur 11 bulan, Ichad sudah pintar bicara dengan koleksi vocab yang jauh diatas anak tetangga & sepupu seumurannya. Saat itu Ichad sudah bisa membedakan flash card group kata tunggal dalam bahasa Indonesia. Secara panduan GD, terhitung telat. Bukan Ichad yg telat, saya yg telat bikin flash card dua kata, dan card kalimat…dah nggak sempat.
Suatu hari ketika Ichad mulai bisa berjalan sendiri, Ichad dengan berlari menubruk saya dengan satu flash card di tangan “Ini Birrru, mamiii..ini Birruu” katanya . Saya tersentak, kartu bertuliskan kata ‘biru’ itu dia ambil dari tumpukan flash card lama yg sedang dirapikan sus Lastri. Duh, maafkan mami,nak… hutang kartu baca untukmu.
Berikutnya, saya mengikuti pertemuan dgn Ibu Irene di QB. Ibu Irene F.Mongkar ini top trainer GD di Indonesia. Saya jatuh cinta dengan ketulusan dan keceriaan beliau mengajarkan para ibu metode GD.
Umur 1,5 tahun Ichad sudah menguasai flash card kalimat bahasa Indonesia, dan semakin penasaran dgn judul artikel di koran or majalah yg dicetak dgn ukuran huruf besar serta warna yg gonjreng.
Pada tangal 21 July 2007, Ichad bergabung bersama batita lain dalam pencatatan rekor batita membaca tingkat nasional. Ada 3 hal yang membuat moment itu berkesan untuk saya:
Pertama adalah opening song, dimana Ibu Irene mengajak seluruh peserta di Balai Sarbini (700-an batita + 700-an parent mostly ibu-ibu muda) menyanyikan bersama lagu ‘..Hanya satu pintaku, tuk memandang langit biru, di pangkuan ayah dan ibu, dst…”, begitu menyentuh hati. Metode GD yang mensyaratkan kontak mata kita dgn anak dan saran supaya para ibu memflash kartu sambil memangku anak, memang sangat mengerti bentuk hubungan dasar antara anak dengan ibu. Demikian halusnya hati seorang Glenn Doman, sehingga memasukan unsur hubungan dasar ibu dengan anaknya , cinta berlimpah tanpa syarat, ke dalam proses belajar membaca (dan matematika). Saya kira inilah keistimewaan metode Glenn Doman. Ajarkan dengan cinta dan percayalah pada kemampuan anak, kata Ibu Irene selalu.
Hal kedua adalah melihat langsung ayah Chloe Purnama dan cerita terbarunya tentang Chloe yang lebih cepat belajar bahasa Jepang, dibanding ayahnya sendiri. Pak Purnama ini dosen di Oxford.
Hal ketiga adalah melihat ibu Irene mencontohkan cara-cara ngeflash yang menarik hati anak, sampai guling-guling di lantai
Untuk saya , buku GD bukan sekedar panduan teknis. Di dalamnya saya menemukan apa yang diharapkan Mr.Glenn Doman untuk tumbuh dalam diri para ibu muda, kepercayaan pada anak-anak sejak dini. Setelah itu baru masuk materi reading atau math.
Sampai hari ini flash card dot math Ichad terbengkalai di 20 dot, karena saya tak sempat lanjutkan. Untungnya untuk reading, masih bisa terus meskipun banyak liburnya.
Flash card English kata tunggalpun dengan mudah Ichad kuasai, sungguh besar karunia Allah SWT pada para bayi, kecerdasan otak yang jauh melampaui rata-rata manusia dewasa.
Yang keteter adalah saya, ibunya. Utang jalanin math-nya GD, nih. Tahu-tahu Ichad sdh 2,5 tahun dan sudah menunjukkan hasil yang membanggakan atas belajar membaca ala GD, sementara saya masih berangan-angan punya waktu mempraktekan GD math pada Ichad.
Bulan ini Ichad belajar Alfabet, hanya butuh waktu 3 hari saja untuk membuatnya hapal symbol alfabet A sampai Z, buat saya ini luar biasa. Mungkin karena Ichad sudah akrab dengan symbol bahasa dalam bentuk kata dan kalimat, maka menghapal Alfabet bukan hal sulit untuknya.
Jesnia kesulitan yang sempat Ichad alami adalah membedakan kartu ‘hand’ dengan ‘head’, he..he..he… paling sering tertukar. Mudah-mudahan sesudah kenal Alfabet, lebih gampang bedain ya, Chad. Padahal kata-kata rumit seperti ‘refrigerator’ nggak pernah salah tuh, kata sedikit rumit dan panjang biasanya malah jadi favoritnya.
Love you, darling!