My Little prince


If you can give your son or daughter only one gift, let it be enthusiasm.

Bruce Barton

*** 

Sekitar pertengahan Juni, Lia , marketing Femina group yg paling rajin ngingetin (nagih tepatnya) untuk memperpanjang langganan majalah Ayah Bunda & CC, dengan semangat mempromosikan akan diterbitkannya majalah bulanan untuk anak oleh Femina group. Namanya Playhouse Disney, karakter di dalamnya adalah karakter dari tayangan yg ada di saluran TV kabel Disney playhouse.

Karena Lia promo abis-abisan, akhirnya saya Ok untuk coba langganan selama 6 bulan dulu, diskonnya juga lagi lumayan, nyampe 35%.  Janji terbit perdana 1 Juli,katanya.

Ketika majalah perdana diantar ke rumah, sus-nya Ichad langsung laporan, majalahnya bagus. Pulang kerja langsung saya cek. Ternyata memang bagus. Kualitas kertas , tampilan gambar, dan kualitas cetakannya Ok untuk harga idr 20K per eksemplar (20K harga sebelum diskon).

Ukuran huruf yang besar-besar, colourful, dan sajiannya bilingual (Indo/English). Hampir tiap halaman adalah lembar aktivitas untuk anak dan pendamping baca. Karakter Disney seperti para anggota Little Einstein beserta si Rocketnya tidak asing buat anak saya, jadi si kecil cepat akrab dgn majalah ini. Jumlah halaman juga nggak pelit, kalo nggak salah 50 halaman, cukuplah untuk membuat sibuk Ichad sementara ini.

Rekomen deh berlangganan ini majalah, mudah-mudahan tetap terjaga mutu dan isinya. Edisi perdana ini juga belum dijejali iklan produk jajanan anak, jadi masih enak bacanya.

Cuma, buat yg tidak terlalu suka tampilan yg ramai, mesti siap capek mata melihat warna-warni tulisan/gambar berebut perhatian di tiap halaman. Apalagi edisi perdana ini didominasi warna merah, teriak banget kesannya, disengaja ‘kali supaya ditengok pembeli.

Let others lead small lives, but not you. Let others argue over small things,but not you.

Let others cry over small hurts, but not you.

Let others leavetheir future in someone else’s hands, but not you.”
Jim Rohn

***

Saat ini kita tidak tahu akan jadi apa anak kita kelak. Kemarin Kum-kum memforward tawaran untuk mengikuti fingerprints test untuk mengetahui bakat dan karakter anak dari suatu lembaga fingerprints test fm Singapore , untuk sesi pertengahan bulan Mei ini, yang kalau jadi akan di laksanakan di sebuah cafe di Permata Hijau. Tertarik sih karena dulu saya pernah baca sebuah artikel tentang hasil riset kepolisian USA bahwa tinggi/rendahnya kecenderungan kriminalitas seseorang ternyata ada korelasinya dengan pola fingerprints seseorang.

Tapi harga fingerprints test ini mahal untuk ukuran saya; IDR 1,5 juta atau bisa turun jadi  IDR 1,2 juta kalau peserta yang ikut ada 10 orang. Selama ini Papi-nya Ichad sih rajin mencermati si kecil untuk mengetahui kecenderungan anaknya, apakah dominan di Visual, Auditori, atau Kinestetik. Kalau saya sih lebih memilih menerapkan semua cara, dengan terutama menjaga supaya selalu ada kontak fisik dan kontak mata (sesuai gaya belajar Ibu-anak batita ala Bapak Glenn Doman). Biarlah Ichad menemukan sendiri gaya belajarnya, saya akan kenalkan semua metode yang mampu saya provide untuknya, karena di usianya sekarang saya tidak ingin terjebak menjadi ortu yang menuntut kualitas si kecil. He deserves for a playful world, more kisses, and more hugs dalam keterbatasan waktu saya sebagai working mom.

Kalau saya sampai membaca 7 metode cara mengajari anak math, dan bela-belain membeli buku Mathmagic, bukan karena saya mau menjejali Ichad Math saat ini. Semua yg saya sempatkan baca itu hanya untuk membuka wawasan saya, yang hanya sempat mengenal 3 dari 7 metode itu di masa sekolah dulu. Jangan sampai kalau Ichad sudah bersekolah nanti, saya tidak bisa membantunya belajar atau berdiskusi, cuma karena Ibunya tidak mengerti perkembangan cara belajar yang baru. Saat ini saya sudah cukup bahagia dengan kecepatan Ichad mengenali dan menyebutkan berapa jumlah tentakel si Tickling Octopus di salah satu seri buku anak bergambar terbitan Erlangga Kid. 

Ngomong-ngomong soal seri buku E.K ini, saya pertama mengenal melalui 1 paket flap book dari mbak Anna Julia - leader team waktu di company lama, waktu itu Ichad baru lahir and mbak Anna rajn nengokin sambil bawa hadiah (God bless you,mbak). Saya langsung jatuh cinta dengan buku seri Erlangga Kid dan saat Ichad hampir 3 tahun sekarang ini, seri E.K selalu jadi the must read books. Oh ya, entah kenapa si kecilku itu dari sekian banyak buku, favoritnya adalah seri bilingual The Munching Crunching Caterpillar. Saya udah bosen deh bacain itu buku , termasuk bacain dengan belasan versi saya supaya nggak mati gaya. Baru-baru ini tuh anak mengigau jadi si caterpillar ” Ichad mau wings,bumbeh…! Ichad baterplaaai”, barangkali dia mimpi ketemu si bumblebee - salah satu karakter di buku itu yang memberi tahu si caterpillar bahwa lebah bisa terbang karena punya sayap, sementara si ulat gendut hanya punya kaki.

Sementara favorit saya  dari seri bilingual E.K ini adalah yang berjudul One Magical Day, tapi Ichad cuma mau sibuk kiss-kiss para brood dan mother duck di halaman bergambar bebek kalau saya bacakan buku itu, atau senyum-senyum melihat gambar anak kucing bergulung-gulung tidur bersama induknya. Gambar-gambar di One Magical Day di mata saya sangat indah dan kalimat English-nya punya rima yang enak dibaca. Mambuat saya sangat menikmati acara membacakan buku untuk si kecil. Ini acara favorit Ichad meskipun dia sudah bisa baca juga sedikit-sedikit, kelihatan anakku ini menikmati sesi memilih buku sendiri dan bergelung di pelukan saya seperti bayi, diam tenang menikmati baris demi baris kalimat yang saya bacakan.

Sebentar lagi Ichad akan menikmati dunia sekolah, akan mulai kompetisi mulai dari kompetisi sosial dan penilaian dalam skala kecil.  Tentu sebagaimana orang tua pada umumnya, saya berharap si kecil mampu mandiri dan menghadapi apa pun tantangan dalam hidupnya.

Saya tidak ingin dia jadi Quitter (anak yg gampang menyerah) dan Camper (anak yang mudah puas); saya berharap dia terbentuk menjadi seorang Climber, yang mampu menaklukan any challange di hadapannya . Climber sejati yang tangguh meskipun harus bolak-balik menghadapi tantangan. Apa pun bidang yang kelak dia pilih untuk ditekuni, semoga saya bisa membekalinya kemampuan untuk menjadi seorang Climber .

You may have tangible wealth untold :
    Caskets of jewels and coffers of gold.
    Richer than I, you can never be -
    I had a mother who read to me.
    [Strickland Gillilan]

Selama dua tahun, bait diatas senantiasa akrab saya dalam setiap komunikasi dengan para ibu dan beberapa ayah member BEX Club, tentunya juga para team Tira Optima di milis BEX.

19 November 2005, adalah moment pertama live saya dengan komunitas ibu-ibu yang mempraktekan GD method. Ketika itu saya memutuskan mengikuti seminar Pak Rizal di markas TOP (belakangan beliau sdh pindah ke Sampurna Foundation, tapi masih enjoy dengan GD katanya), setelah beberapa waktu secara pasif mengikuti milis BEX, sekaligus beli buku panduan yang ‘reading’.  Langsung semangat begitu melihat rekaman video pertama Chloe Purnama, yang waktu itu masih ‘piyik’ dan mamanya yang bersemangat nge-flash kartu baca dgn heboh supaya Chloe tetap tertarik, thanks ya Chloe sudah menjadi inspirasi untuk saya.

Waktu itu Ichad masih belum genap 5 bulan, saya dibantu sus Bertha membuat flash card generasi pertama buat Ichad. Kata tunggal, spidol besar merah, dan berkarung-karung semangat.

Umur 11 bulan, Ichad sudah pintar bicara dengan koleksi vocab yang jauh diatas anak tetangga & sepupu seumurannya. Saat itu Ichad sudah bisa membedakan flash card group kata tunggal dalam bahasa Indonesia. Secara panduan GD, terhitung telat. Bukan Ichad yg telat, saya yg telat bikin flash card dua kata, dan card kalimat…dah nggak sempat.

Suatu hari ketika Ichad mulai bisa berjalan sendiri, Ichad dengan berlari menubruk saya dengan satu flash card di tangan “Ini Birrru, mamiii..ini Birruu” katanya . Saya tersentak, kartu bertuliskan kata ‘biru’ itu dia ambil dari tumpukan flash card lama yg sedang dirapikan sus Lastri. Duh, maafkan mami,nak… hutang kartu baca untukmu.

Berikutnya, saya mengikuti pertemuan dgn Ibu Irene di QB. Ibu Irene F.Mongkar ini top trainer GD di Indonesia. Saya jatuh cinta dengan ketulusan dan keceriaan beliau mengajarkan para ibu metode GD.

Umur 1,5 tahun Ichad sudah menguasai flash card kalimat bahasa Indonesia, dan semakin penasaran dgn judul artikel di koran or majalah yg dicetak dgn ukuran huruf besar serta warna yg gonjreng.

Pada tangal 21 July 2007, Ichad bergabung bersama batita lain dalam pencatatan rekor batita membaca tingkat nasional. Ada 3 hal yang membuat moment itu berkesan untuk saya:

Pertama adalah opening song, dimana Ibu Irene mengajak seluruh peserta di Balai Sarbini (700-an batita + 700-an parent mostly ibu-ibu muda) menyanyikan bersama lagu ‘..Hanya satu pintaku, tuk memandang langit biru, di pangkuan ayah dan ibu, dst…”, begitu menyentuh hati. Metode GD yang mensyaratkan kontak mata kita dgn anak dan saran supaya para ibu memflash kartu sambil memangku anak, memang sangat mengerti bentuk hubungan dasar antara anak dengan ibu. Demikian halusnya hati seorang Glenn Doman, sehingga memasukan unsur hubungan dasar  ibu dengan anaknya , cinta berlimpah tanpa syarat, ke dalam proses belajar membaca (dan matematika). Saya kira inilah keistimewaan metode Glenn Doman. Ajarkan dengan cinta dan percayalah pada kemampuan anak, kata Ibu Irene selalu.

Hal kedua adalah melihat langsung ayah Chloe Purnama dan cerita terbarunya tentang Chloe yang lebih cepat belajar bahasa Jepang, dibanding ayahnya sendiri. Pak Purnama ini dosen di Oxford.

Hal ketiga adalah melihat ibu Irene mencontohkan cara-cara ngeflash yang menarik hati anak, sampai guling-guling di lantai :)

Untuk saya , buku GD bukan sekedar panduan teknis. Di dalamnya saya menemukan apa yang diharapkan Mr.Glenn Doman untuk tumbuh dalam diri para ibu muda, kepercayaan pada anak-anak sejak dini. Setelah itu baru masuk materi reading atau math.

Sampai hari ini flash card dot math Ichad terbengkalai di 20 dot, karena saya tak sempat lanjutkan. Untungnya untuk reading, masih bisa terus meskipun banyak liburnya.

Flash card English kata tunggalpun dengan mudah Ichad kuasai, sungguh besar karunia Allah SWT pada para bayi, kecerdasan otak yang jauh melampaui rata-rata manusia dewasa.

Yang keteter adalah saya, ibunya. Utang jalanin math-nya GD, nih. Tahu-tahu Ichad sdh 2,5 tahun dan sudah menunjukkan hasil yang membanggakan atas belajar membaca ala GD, sementara saya masih berangan-angan punya waktu mempraktekan GD math pada Ichad.

Bulan ini Ichad belajar Alfabet, hanya butuh waktu 3 hari saja untuk membuatnya hapal symbol alfabet A sampai Z, buat saya ini luar biasa. Mungkin karena Ichad sudah akrab dengan symbol bahasa dalam bentuk kata dan kalimat, maka menghapal Alfabet bukan hal sulit untuknya.

Jesnia kesulitan yang sempat Ichad alami adalah membedakan kartu ‘hand’ dengan ‘head’, he..he..he… paling sering tertukar. Mudah-mudahan sesudah kenal Alfabet, lebih gampang bedain ya, Chad. Padahal kata-kata rumit seperti ‘refrigerator’ nggak pernah salah tuh, kata sedikit rumit dan panjang biasanya malah jadi favoritnya.

Love you, darling!

Pertemuan grup Garuda bulan lalu mengikat saya pada satu utang besar ke my great leader, Pak Johannes Susilo. Sungguh suatu kehormatan, Pak Jo mengikutkan saya di leader meeting kemarin, dgn posisi level yg sangat belum layak masuk jajaran leader, saya ‘nyelip’ di sana kemarin :)

Saya sangat menyadari satu-satunya sebab saya belum bergerak ke level berikutnya adalah karena saya memeng belum bergerak lagi. Sangat benar apa yang dikatakan Pak Jo, hambatan terbesar adalah dalam diri kita sendiri.

Advise yang sangat kena buat kondisi saya saat ini adalah “Jangan takut kurang tidur. Tuhan menjanjikan kita semua akan tidur panjaaaang dan nyenyak, bila saatnya tiba. Itu pasti terjadi, karena itu janji Tuhan kepada kita sbg mahluk-Nya”

Ini sebenarnya kalimat andalan mamih saya juga: jangan takut kurang tidur, hidup itu ya buat berkarya, tidur sedikit tak apa kalau untuk berkarya dan menyelesaikan masalah yg memang mesti dihadapi orang hidup, nanti mati juga kenyang tidur.

Beberapa bulan belakangan ini, saya suka bertanya-tanya “Kapan gw bisa ngabisin waktu liburan dgn tidur enak, sih?” Terakhir bisa nyempetin tidur siang pas week end itu bulan Agustus ‘07, durasi 1,5 jam tapi nikmeh bin segar udahnya.

Kerjaan kantor yg jatahnya makin menumpuk dgn tidak adanya C’Fie dan Irin, kerjaan rumah, urusan keluarga besar, undangan ini-itu, terutama sih urusan si kecil (yg bikin tidur malam nggak tentram karena masih suka sakau nagih susu botol, dan ngompol padahal udah pipis sebelum tidur dah nolak abis pake nappy).

Bahkan, saking nggak sempatnya ngurusin lagi family gathering sama teman2 Ex pengurus Sema FMIPA, sampai dikirimin tegoran “Teh , ayo bangkit dari kubur” katanya, hi..hi..hi.. maafkan aku saudara-saudara.  Janji deh ntar diurusin lagi, gimana kalau kita ke The Jungle di Bogor bawa krucil kita senang-senang main air sambil sharing ilmu dunia persilatan?

Wafatnya adik mamih (dua dgn jarak nggak lama), dan sakitnya Ibu (mertua) yang sampai sekarang masih harus dirawat di RS, mengharuskan saya menandai tanggal merah sbg jadwal wajib nginap di luar rumah instead of menikmati libur bareng si kecil Ichad di rumah.

Untung aja bulan lalu berhasil menyempatkan bawa dia ke Pan&Cook makan es krim dan pancake. Si Papi juga udah lusuh banget tampangnya, tiap hari mesti nongkrong di RS karena Ibu nggak mau ditinggal sedikitpun. Goodbye kerjaan,Goodbye bisnisan, goodbye anak-istri, goodbye rumah.

Ichad sampe histeris pas libur natal kemaren dibawa ke RS, nggak mau lepas dari papi-nya. Saya nggak bisa ngomong apa-apa. Ibu benar-benar nggak mau sekejap pun lepas dari papi-nya Ichad, nggak mau ditinggal dan nggak mau diganti ditungguin anggota keluarga yg lain, nggak ada yg kepake. Ya, kalau melihat kondisi Ibu sekarang, apa yang dilakukan dan dikorbankan papi semoga tidak sia-sia.

Tapi kalau Ichad malam-malam nyariin papinya, saya kadang nggak tahan juga, jadi ikut kesepian. Paling saya peluk dan timang sampai etrtidur lagi di pangkuan dan nggak nanya-nanya papi-nya terus. Minta nelpon papi, minta dipijatin papi, minta dibeliin onde-onde sama papi, minta gendong papi.

Duh,  nggak tega deh kalo pulang kerja mesti jalanin bisnis network dulu dgn ninggalin dia lagi malam-malam, sementara week end aja mesti ditinggal ke RS.

Mudah-mudahan kami semua diberi ketabahan melewati semua ini, ya Allah. Berilah kami kesehatan, supaya bisa menjalankan tugas-tugas yang Kau berikan. Amien.

Saya mencoba untuk tidak takut kurang tidur, tapi saat ini waktunya untuk kepentingan keluarga dulu.